Melihat Penangkaran Penyu Di Tanjung Bira

Pantai Tanjung BiraBira, barangkali merupakan sebuah kata yang masih terlalu asing bagi masyarakat umum, namun suatu hal yang sangat tidak asing bagi para traveler. Bira merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Nama bira melejit berkat keindahan alamnya yang sangat mempesona. Bira, atau lebih dikenal Tanjung Bira, merupakan gugusan pantai dengan pasir lautnya yang putih layaknya bedak bayi, benar-benar putih dan lembut. Dan saya sudah membuktikan sendiri.

            Untuk menuju Tanjung Bira, dapat ditempuh dengan beberapa pilihan transportasi dari Kota Makassar. Saya memilih menggunakan sewa mobil karena bisa lebih leluasa jika ingin mampir-mampir ke tempat yang lain. Perjalanan dari Kota Makasar menuju Tanjung Bira ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 – 5 jam tergantung pada kecepatan kendaraan. Ketika memasuki Kabupaten Jeneponto, pemandangan didominasi oleh suasana tepi pantai. Masyarakat setempat saat itu sedang sibuk-sibuknya memanen garam hasil produksi. Ya, Jeneponto memang dikenal sebagai salah satu sentra garam rakyat yang telah ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Oiya, tujuan saya mengunjungi Tanjung Bira ialah ingin melihat lokasi penangkaran penyu yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

            Untuk memasuki kawasan Tanjung Bira, pengunjung harus membayar tiket masuk yang saya tidak ketahui berapa harganya karena saat itu saya lewat begitu saja. Hehee…. lumayan gratis. Jarak dari pos retribusi ke pantai tidaklah terlalu jauh apabila berjalan kaki. Di sepanjang jalan masuk menuju pantai terdapat deretan kios yang menjual aneka macam dagangan antara lain souvenir serta makanan dan minuman.

            Objek wisata Tanjung Bira menawarkan beberapa daya tarik wisata yang cukup memikat. Selain keberadaan pantai Tanjung Bira sendiri, terdapat pilihan lain bagi para pengunjung yaitu dengan mengunjungi dua pulau kecil yang lokasinya tidak terlalu jauh. Kedua pulau tersebut diberi nama Liukang Loe dan Kambing. Kali ini tujuan saya mengunjungi pulau liukang loe dimana menurut cerita terdapat penangkaran penyu yang selalu ramai pada akhir pekan.

Untuk mencapai pulau Liukang Loe, pengunjung wajib menggunakan kapal-kapal speed yang banyak tersedia di pinggir pantai. Saya katakan wajib ya karena tidak mungkin kita berenang untuk menuju pulau tersebut. Kapal yang disewakan ukurannya tidak terlalu besar, barangkali hanya mampu menampung sepuluh orang saja. Kalau tidak salah si pemilik kapal harus menunggu sampai kapal penuh baru mau jalan. Saya membayar uang sebesar Rp. 350.000 dan kapal pun langsung tancap gas.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mungkin hanya 20 menit, tibalah saya di Pulau Liukang Loe. Namun kapal yang saya sewa tidak merapat di pinggir pantai, namun sandar pada sebuah bangunan yang cukup besar. Bangunan semi permanen berdiri di atas air dan tentu saja berada di sekitaran terumbu karang. Seperti yang telah saya jelaskan di awal bahwa di Pulau Liukang Loe terdapat beberapa pelaku usaha wisata yang melakukan penangkaran penyu. Bangunan tersebut digunakan sebagai usaha rumah makan seafood dan dilengkapi dengan kolam penangkaran penyu. Penyu yang dipelihara di kolam tersebut berjenis penyu hijau atau nama latinnya Chelonia mydas. Jadi, di tempat ini pengunjung selain dapat menikmati sajian seafood yang enak juga dapat bermain/berenang di kolam penangkaran bersama penyu-penyu yang menurut sang pemilik telah dipelihara selama dua tahun.

Penyu Itu Sudah Tak Ada lagi

Saya pun langsung menaiki tangga untuk memesan ikan bakar sambil menikmati penyu-penyu yang dipelihara oleh pemilik rumah makan. Sejenak saya terkejut. Cerita yang saya peroleh bahwa di tempat ini kita bisa berenang bersama penyu-penyu yang lucu ternyata hanya isapan jempol. Saya tidak menemukan seekor pun penyu ada di kolam penangkaran. Lantas kemana penyu-penyu tersebut ?

Saya lalu mencoba menanyakan kepada si pemilik rumah makan. Dengan muka sedikit sedih, diceritakan bahwa beberapa waktu yang lalu datang satu tim petugas gabungan dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP RI, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makasar, Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu KKP RI, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bulukumba. Di antara tim tersebut terdapat beberapa penyidik yang memeriksa kelengkapan perijinan usaha serta meminta keterangan lainnya yang diperlukan.

Sang pemilik rumah makan mengaku merasa beruntung karena langkah yang diambil oleh petugas tim gabungan masih berupa pembinaan. Petugas menyampaikan bahwa sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yaitu pada pasal 21 ayat (2) :

Setiap orang dilarang :

menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Satwa dan Tumbuhan, penyu merupakan salah satu satwa yang dilindung oleh Pemerintah. Selanjutnya dalam pasal 24 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dijelaskan bahwa apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 , satwa tersebut dirampas untuk negara. Satwa yang dirampas untuk negara selanjutnya dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Pemerintah mengatur bahwa kegiatan penangkaran dalam rangka pengawetan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. Berdasarkan hal tersebut, tim gabungan mengambil tindakan untuk melepasliarkan penyu-penyu yang ada di kolam penangkaran sebanyak 20 ekor kembali ke habitatnya. Sang pemilik diperingatkan untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya karena jika hal tersebut terjadi maka ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denga paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sudah siap menanti.

Mari Selamatkan Penyu

Upaya masif yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka melestarikan penyu sudah sepatutnya didukung oleh masyarakat. Populasi penyu di perairan Indonesia semakin lama semakin menyusut. Hal tersebut disebabkan tidak seimbangnya antara upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah beserta masyarakat dengan kegiatan-kegiatan eksploitatif seperti misalnya pengambilan telur dan sebagai bahan baku kerajinan. Penyu terkenal sebagai satwa yang sangat rentan dalam siklus hidupnya. Untuk mencapai usia reproduktif, dibutuhkan waktu hingga 30 – 50 tahun. Proses peneluran juga memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi antara lain gangguan dari alam dan binatang pemangsa, juga eksploitasi oleh manusia.

Indonesia memiliki enam spesies penyu dari tujuh yang tercatat di dunia, yaitu penyu sisik, penyu belimbing, penyu lekang, penyu hijau, penyu pipih, dan penyu tempayan. Keenam penyu tersebut telah dilindungi secara penuh oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah mengeluarkan Surat Edaran No. 526/MEN-KP/VIII/2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor penggerak roda perekonomian negara Indonesia. Sama halnya dengan keberadaan Pantai Tanjung Bira yang sangat mempesona, kehidupan masyarakat sekitar pasti mendapat pengaruh dari sisi ekonomi. Mulai dari penyewaan kapal cepat, penjualan souvenir, penyewaan alat selam, guest house, dan lainnya, semua dapat hidup karena potensi pariwisata yang dimiliki. Akan tetapi, seyogyanya dalam menjalankan usaha pariwisata harus tetap dilaksanakan secara bertanggung jawab. Artinya rambu-rambu atau peraturan yang berlaku harus dilaksanakan sehingga semuanya dapat berjalan tanpa ada masalah.

Tindakan yang dilakukan oleh sang pemilik rumah makan yang saya ceritakan di atas tadi barangkali memang murni karena ketidaktahuan yang bersangkutan. Di sini pemerintah seharusnya menjalankan perannya. Terkadang pemerintah agak malas-malasan dalam memberikan sosialisasi peraturan dan ditambah dengan aparatnya yang tidak konsisten dalam menegakkan peraturan.

Ahh…walaupun sedikit kecewa karena tidak bisa bermain-main dengan penyu lagi, tetapi saya cukup senang karena sang bapak pemilik penyu sudah memperoleh pengetahuan baru bahwa penyu termasuk satwa yang dilindungi pemerintah dan masyarakat tidak dapat sembarangan melakukan penangkaran penyu. Walaupun penyunya sudah tidak ada lagi, semoga usaha rumah makan bapak tadi tetap ramai pengunjung yang ingin menikmati ikan bakar hangat khas Bulukumba.

Saya pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas curahan hatinya. Semoga di lain waktu saya dapat kembali lagi ke tempat tersebut untuk memastikan bahwa karang-karang hasil kegiatan transplantasi karang sebagai ganti penyu di kolam penangkaran, sudah tumbuh dengan bagus dan indah.

Iklan

Posted on 15 Desember 2015, in kelautan, pelestarian, penyu, perjalanan, wisata. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: