Batam, antara Barelang dan Gonggong

ImageBatam, sebuah kota yang tentu sudah tidak asing lagi bagi setiap orang. Terkadang orang mengartikan kata Batam dengan arti “banyak tamu”. Memang benar juga sih, karena kota ini pasti kebanjiran tamu terutama pada saat akhir pekan tiba, jumat-sabtu-minggu. Ketika senja hari jumat tiba, di setiap sudut kota dapat kita jumpai tamu dari luar negeri hiruk pikuk berlalu lalang di kota ini, terutama di tempat-tempat kuliner yang menyajikan banyak menu makanan khas. Tamu luar negeri yang paling sering datang ke Batam ialah mereka yang berasal dari negeri Singa alias Singapura dan juga Malaysia.

Batam adalah kota terbesar di Kepulauan Riau dan merupakan kota dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatera setelah Medan dan Palembang. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat.

Jembatan Barelang, sebuah ikon manis yang membuat kota ini semakin terkenal. Berasal dari kata Batam – Rempang – Galang, jembatan ini menjadi sarana penghubung ketiga pulau tersebut. Jembatan inilah yang membuat wisatawan ‘harus’ berpose untuk mengabadikan dan memberikan pesan ke semua orang bahwa dirinya sudah pernah ke Batam. Sekali jepret, langsung deh update foto profil BBM. Dan teman pasti akan berkomentar, “wah lagi di batam ya??”. Atau, “wah lagi dimana tuh? Pengen…”. Inilah jembatan Barelang, sebuah ikon kota Batam yang harus anda ajak berfoto bareng.Image

Ngomong-ngomong soal ikon kota Batam, barangkali selain kegagahan jembatan Barelang, ada juga yang layak diunggulkan untuk masuk nominasi khas kota Batam. Ya, Gonggong. Barangkali barang yang satu ini masih terdengar asing jika anda belum pernah datang ke Batam, Bintan, maupun Balai Karimun. Entah sudah berapa kali saya datang ke Batam. Sepuluh kali mungkin ada. Dan setiap kali saya datang ke Kepulauan Riau, terutama Batam dan Tanjung Balai Karimun, gonggong merupakan salah satu maskot kuliner yang pasti saya cari.

Dalam catatan sejarah saya mengenai kegemaran saya terhadap gonggong ini bermula ketika saya pertama kali datang ke Batam bersama kawan-kawan kantor. Kala itu sopir yang juga merupakan kawan kantor di Batam, membawa kami ke salah satu tempat wisata kuliner malam yang sangat terkenal di Batam,  Windsor Food Court. Tempat ini terbilang sangat ramai. Hari biasa saja ramai apalagi kalau pas weekend. Dilihat dari segi penampilan tempat ini memang sangat menarik. Disajikan dalam suasana open air dan berada di pinggir laut membuat nafsu makan semakin bergelora. Di tempat ini anda jangan heran jika menemukan puluhan gadis berlalu-lalang berbalutkan baju ketat dan rok (sangat) mini sembari menawarkan botol bir. Masakan cita rasa Chinese mendominasi menu makanan di tempat ini, karena yang punya memang sebagian besar orang tionghoa.

“Gonggong satu porsi ya”, begitu kata teman saya kepada si pelayan. Makanan apa pula gonggong itu? Itulah yang ada di pikiran saya. Jangan-jangan makanan yang bahannya daging anjing, sesuai dengan namanya. Begitu pesanan datang, ternyata yang disajikan ialah seporsi makanan yang bentuknya menyerupai kerang. Ohh, jadi ini yang namanya gonggong.

Image

Menurut info yang saya peroleh dari mbah Google, gonggong merupakan hewan laut (siput laut) yang bercangkang keras dan berbentuk panjang. Hewan laut ini banyak terdapat di Desa Lobam, Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Di pinggir Pantai Lobam seluas 10 hektar inilah gonggong dengan mudah dapat ditemukan ketika air laut sedang surut. Sedikitnya setiap hari terdapat 50 warga setempat yang mencari gonggong di pinggir pantai ini. Namun belakangan, gonggong yang berukuran besar semakin sulit didapat. Kebanyakan yang ditemui gonggong berukuran kecil. Belum lagi, pencari gonggong kini telah semakin banyak.

Biota laut jenis Molusca ini belum dapat dibudidayakan. Hewan ini baru terbatas berkembang biak secara alami. Karena setiap hari diambil, gonggong dapat punah. Apalagi biota laut ini memerlukan waktu lama, sekitar 5 tahun untuk mengeraskan cangkangnya. Kondisi tersebut tidak sebanding dengan makin tingginya animo masyarakat untuk mengkonsumsi gonggong.

Jika kita memesan makanan, ikan bakar misalnya, dan tentu pesan gonggong juga, maka yang biasanya datang paling awal adalah gonggong. Barangkali memang dimaksudkan sebagai hidangan pembuka. Satu porsi isinya lumayan banyak, bisa untuk 4 orang. Bagi yang tidak terbiasa makan kerang, siput, atau yang sejenisnya pasti akan merasa jijik waktu pertama kali melihat dan mencobanya. Karena itu yang saya rasakan waktu itu. Hehehe……  Namun setelah dicoba ternyata enak juga. Cara makannya cukup unik. Biasanya pemilik rumah makan sudah menyediakan tusuk gigi. Kenapa tusuk gigi? Karena untuk mengeluarkan isi/daging dari cangkangnya kita harus menggunakan alat pencongkel supaya dagingnya bisa keluar dari cangkang. Maka disediakanlah tusuk gigi. Seorang dosenku pernah menyangkal bahwa penggunaan tusuk gigi tidak berlaku untuk gonggong di Pulau Bintan (Tanjung Pinang). Kenapa? Karena katanya kalau di Tanjung Pinang gonggong nya tidak seperti yang ada di Batam dan Balai Karimun. Ukuran gonggong di Tanjung Pinang lebih besar, jadi untuk mengeluarkan dagingnya cukup menarik bagian ekor yang sudah sedikit menyembul dengan menggunakan tangan sudah bisa keluar. Hemm..benar juga ya. Di Batam dan Balai Karimun ukuran gonggongnya memang kecil. Kadang sudah menggunakan tusuk gigi tetap saja sudah narik dagingnya.

ImageImage

Menikmati gonggong biasanya harus dicocol dengan sambal yang telah disediakan. Bisa sih kalau mau polos tanpa sambal, tapi rasanya agak aneh, hambar. Sambal yang biasanya digunakan ialah sambal kacang yang ada rasa asam dan manisnya. Namun tidak jarang ditemukan sambal yang berbeda dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Yang penting ada sambalnya pasti enak. Gonggong memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Demikian juga halnya dengan kandungan kolesterol, maka anda harus hati-hati ketika mengkonsumsi gonggong. Agar tidak menggonggong setelah memakannya. Hahaa……

Seporsi gonggong biasanya dibanderol dengan harga 25 ribu – 30 ribu. Menu gonggong biasanya disajikan bersama jenis masakan sea food lainnya, misalnya sop kepala kakap, steam kerapu, kepiting, pokoknya yang berbau hewan-hewan laut. Jika anda tertarik untuk mencoba gonggong, maka anda dapat mengunjungi di tempat-tempat makan mana saja. Tapi jangan anda coba cari di rumah makan padang, kayaknya tidak bakalan bisa ketemu. Yang jelas rumah makan yang memiliki menu sea food dan yang penting di Batam, Balai Karimun, atau Bintan. Karena gonggong sudah diklaim sebagai makanan khas Batam, umumnya Kepulauan Riau. Kalau di luar tempat tadi anda bisa menemukan gonggong, wah saya tidak tahu deh. Heheee….

Jadi, jangan bilang kalau anda sudah pernah ke Batam sebelum berfoto di Jembatan Barelang, dan satu lagi, sebelum anda menikmati kekenyalan GONGGONG.

Iklan

Posted on 9 Juli 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. artikel yang menarik, cara penyampaiannya jg pas banget….terus diupdate blognya pak…saya akan mampir lg kesini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: