LEBIH ENAK JADI NELAYAN HARTA KARUN MAS..!!

Entah merupakan sebuah kebetulan atau memang karena sengaja, ternyata nelayan di Indonesia bukan saja mencari ikan sebagai sasaran utamanya ketika melaut, namun juga ada sasaran lain yang menjadi hasratnya. Sasaran lain tersebut dapat berupa terumbu karang, rumput laut, pasir laut, atau bahkan besi-besi tua. Namun yang cukup membelalakkan mata ialah adanya perburuan harta karun di dasar laut yang dilakukan oleh nelayan-nelayan di Indonesia. Harta karun tersebut berasal dari kapal-kapal yang tenggelam dimana pada saat kapal tersebut belum tenggelam, mereka (kapal) membawa barang-barang dagangan atau barang-barang sebagai hadiah untuk raja-raja di Indonesia pada dahulu kala.

Negara Indonesia memang tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang budaya maritime dunia. Bagaimana tidak, posisi wilayah kepulauan Indonesia yang strategis menjadikan wilayah ini sebagai salah satu destinasi atapun hanya sebagai tempat singgah para pelaut jaman dulu. Banyaknya kapal-kapal yang tenggelam di wilayah perairan Indonesia merupakan bukti otentik bahwa perairan Indonesia merupakan jalur sutra pelayaran dunia. Hal tersebut turut didukung oleh keberadaan sumberdaya alam Indonesia yang banyak dicari oleh bangsa-bangsa Eropa seperti misalnya rempah-rempah. Untuk mendapatkannya mereka bangsa Eropa harus rela mengarungi samudra dan perairan yang luas. Diperkirakan terdapat ratusan kapal-kapal tenggelam yang kandas di perairan Indonesia. Entah disebabkan oleh factor cuaca, peperangan, atau karena diserang bajak laut, seperti yang banyak terdapat di Perairan Belitung.

Banyaknya kapal-kapal tenggelam, baik yang membawa muatan maupun yang tidak membawa muatan, mendorong masyarakat khususnya nelayan untuk berburu mendapatkan titik lokasi tenggelamnya kapal. Hal yang menjadi perhatian serius ialah nelayan yang memang secara sengaja melakukan pencarian di tengah laut. Peralatan yang mereka bawa biasanya hanya standar saja, yaitu kompresor, selang yang panjangnya puluhan meter, masker, dan echo sounder. Hal ini tentu sangat berbeda dengan survey harta karun/BMKT (Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam) secara legal yang memiliki izin kegiatan dari Panitia Nasional BMKT. Pencarian BMKT secara  legal memiliki standar peralatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, misalnya side scan sonar, magnetometer, metal detector, dan lain-lain. Teknik penyelaman juga dilakukan secara professional berdasarkan ketentuan-ketentuan teknis penyelaman. Sangat kontras ketika dikomparasikan dengan penyelam amatir oleh nelayan.

Memancing BMKT
Tahun 2010, sempat beredar isu di masyarakat baik melalui media cetak maupun media elektronik, yaitu soal pengangkatan BMKT oleh perusahaan swasta. Kejadian tersebut terjadi di Perairan Blanakan, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan pengangkatan BMKT menjadi heboh lantaran beredar isu bahwa kegiatan tersebut dibeking-i oleh mafia harta karun yang pernah menggasak perairan Indonesia, yaitu Michael Hatcher. Michael Hatcher menguras habis isi kapal Geldermalsen, yaitu kapal VOC yang tenggelam di perairan Indonesia pada tahun 1989. Isi kapal tersebut berhasil di bawa ke Australia sebanyak 48 kontainer untuk dilelang. Lantakan emas menghiasi meja lelang dan berhasil menembus angka triliunan rupiah. Indonesia hanya bisa menatap sinis melihat kejadian tersebut.

Michael Hatcher

Sewaktu saya melaksanakan tugas dari negara untuk melakukan pengawasan kegiatan pengangkatan BMKT di atas kapal, saya mencoba ngobrol dengan beberapa penyelam yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Saya merasa beruntung karena teman yang saya ajak ngobrol ternyata pernah menemukan titik lokasi kapal tenggelam. Pada awalnya dia bercerita bahwa dia menemukan titik tersebut secara tidak sengaja. Seperti biasa, nelayan selalu beralasan bahwa mereka menemukannya secara tidak langsung. Alasannya selalu saja jaringnya menyangkut BMKT. Tetapi nelayan yang satu ini mengatakan bahwa pada saat itu dia hanya memancing ikan, tidak menggunakan jaring.

“saya waktu itu memancing mas, nah kebetulan kailnya nyangkut. Saya tarik, eh ternyata nyangkut mangkuk”

Namun saya tidak begitu saja langsung percaya. Pertanyaan demi pertanyaan yang sifatnya memancing saya kerahkan. Benar saja. Akhirnya teman saya tersebut bercerita yang sebenarnya bahwa nelayan tersebut memang sengaja mencari lokasi BMKT.

Jual Beli Titik Lokasi dan BMKT
Selama ini, titik-titilk lokasi BMKT banyak ditemukan oleh para nelayan, baik sengaja atau tidak sengaja. Ada beberapa modus operandi yang dilakukan oleh nelayan ketika menemukan BMKT. Yang pertama, nelayan menyimpan sendiri barang tersebut untuk di jual kepada perorangan ataupun disimpan dirumah. Kedua, nelayan melaporkan kepada pihak yang berwenang yaitu Polisi maupun Pemerintah Daerah. Ketiga, nelayan melaporkan kepada pihak-pihak yang bergerak dalam bidang pemanfaatan BMKT baik legal maupun illegal.

Perusahaan swasta yang bergerak atau tertarik dalam bidang BMKT kadang-kadang juga tidak mau pasif saja untuk mendapatkan titik lokasi BMKT. Umumnya mereka telah bekerja sama dengan nelayan-nelayan yang wilayah tangkapannya adalah perairan yang potensial BMKT. Perusahaan akan memberikan ganti rugi jika nelayan berhasil mendapatkan titik lokasi dan titik tersebut memang benar-benar terdapat kapal tenggelam. Jika nelayan yang menemukan titik lokasi adalah nelayan yang setia terhadap majikannya yaitu perusahaan yang mau membayarnya, maka titik lokasi tersebut hanya akan diinformasikan kepada perusahaan tersebut. Namun ada pula nelayan nakal yang menjual titik lokasi kepada beberapa perusahaan, sehingga terjadi perebutan antar perusahaan saat mengajukan izin survey kepada Pannas BMKT.

Begitu pula dengan nelayan yang saya ceritakan di atas. Nelayan tersebut memang sudah lama berhenti menangkap ikan dengan alasan susah mendapat tangkapan ikan dalam jumlah banyak sehingga sering merugi. Pengalaman yang pernah dia dapat saat mendapatkan BMKT, mendorong keinginannya untuk berubah haluan menjadi pemburu titik lokasi BMKT. Dia pun juga berpesan kepada teman-teman nelayannya jika mendapatkan BMKT atau lokasi, agar diberitahukan kepadanya dan akan diberikan imbalan.

“kadang-kadang rugi juga mas, kan kita bayar informasi dari teman nelayan kalo ada lokasi harta karun, setelah kita cek lokasi itu, ternyata tidak ada apa-apanya. Jadinya ya rugi duit buat bayar informasi sama solar”

Jual beli titik lokasi antara nelayan dan pengusaha merupakan hal yang sudah umum. Tentu saja hal ini dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Pengusaha jelas, kepentingannya adalah untuk melakukan pengangkatan baik illegal maupun legal. Pengangkatan yang dilakukan secara illegal tentu saja akan memberikan keuntungan yang lebih besar karena tidak perlu repot-repot berurusan dengan birokasi pemerintah, selain itu tidak perlu membayar biaya harian untuk pengawas sebagaimana yang biasa dilakukan dalam kegiatan pengangkatan yang legal. Sementara nelayan kepentingannya tentu saja soal perut, agar dapur tetap mengepul.

 

BMKT hasil penjarahan oleh Nelayan

Profesi nelayan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu nelayan murni yaitu nelayan yang kesehariannya mencari ikan di laut, nelayan berprofesi ganda yaitu mencari ikan sambil mencari BMKT, dan nelayan pencari BMKT. Teman yang saya ceritakan di atas tadi kebetulan merupakan nelayan pencari BMKT. Dirinya memang lebih memilih untuk menjadi seorang pencari titik lokasi BMKT. Dengan modal kapal yang dimilikinya, dirinya sering pergi ke laut untuk melakukan ‘survei’ yang tentu saja dipastikan illegal. Echo Sounder dibeli dari Glodok Jakarta seharga 2 Juta lalu dipasang di samping kemudi kapalnya. Berbekal Echo Sounder itulah dirinya menjadi peneliti bawah laut untuk mengamati penampakan dasar laut. Yang dicari adalah adanya gundukan karena biasanya kapal-kapal yang tenggelam sudah tertimbun oleh aneka material terutama karang sehingga memberikan penampakan yang lain dibandingkan lingkungan sekitar kapal tenggelam tersebut.

Saya Tanya kepada teman saya itu, “lebih enak mencari ikan atau mencari BMKT mas?”
Dengan tersenyum dia menjawab,”enak nyari BMKT mas”.

Iklan

Posted on 13 Januari 2011, in arkeologi, artikel, budaya, kelautan, sejarah, serba-serbi and tagged , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. tgl 23 januari 2011 undngan hut blogdetik di mall gandaria….hayooo budhal!!

  2. saya mencari data perusahaan jasa pengangkatan BMKT, wilayah Aceh, hubungi via email safarmanaf78@gmail.com – trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: