Candi Plaosan, Masih Saja Eksotis..!!

Setelah sekian lama tidak menengok himpunan batu-batu berukir, atau istilah ilmiahnya candi, kucoba sejenak menyempatkan menengok salah satu candi di kawasan prambanan, Jawa Tengah. Awalnya memang tidak ada niat untuk berkunjung ke candi, apalagi sekarang jogja panasnya minta ampun (kata orang pintar ini akibat pemanasan global). Tapi karena waktu itu kebetulan saya mendapat undangan ke nikahan temen, yang kebetulan memang berada di kawasan Prambanan, yah, apa boleh buat, mencoba memutar kembali historia semasa jaman kuliah dulu dengan mampir sebentar di komplek percandian Plaosan. Tapi, waktu itu emang bener-bener panas cuacanya. Barangkali kalo telur ditaruh di atas batu candi, bisa matang itu telur. Hihiii…..

 

pintu masuk candi utama selatan

Candi Plaosan mungkin belum banyak orang mengetahui keberadaannya, bahkan mungkin sejarah dari komplek bangunan tersebut. Memang, karena candi ini belum se-terkenal candi prambanan, Borobudur, Besakih, dan lainnya. Namun, jika kita telisik lebih jauh lagi, di komplek percandian inilah banyak sekali data-data sejarah peradaban bangsa Indonesia yang dapat kita baca.

Kompleks Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini dapat dijumpai dari Jogja menuju ke arah Solo, tepatnya di Klaten. Jarak dari Jogja ke Prambanan (Candi plaosan berada kurang lebih 1-2 km dari candi prambanan) tidak terlalu jauh, ditempuh sekitar 45 Menit dari Jogja dengan jalan santai berkendara.

Memasuki kompleks candi Plaosan Lor, kita akan dijamu oleh penjaga situs/candi yang mewajibkan anda untuk membayar retribusi sebesar 1500 rupiah per orang. Hemm…cukup murah. Ini berbeda dengan kondisi beberapa tahun yang lalu, anda hanya diminta seikhlasnya untuk dapat masuk ke dalam kompleks percandian. Sangat kebangetan kalo sampai anda tidak mau memberi…hehe…hitung-hitung buat jasa kebersihan candi. Sebelum memasuki halaman utama candi, kita akan di sapa oleh sepasang arca dwarapala/patung penjaga yang sangat besar. Walaupun penampilannya cukup mengerikan, namun tidak ada salahnya jika anda ingin sekedar berfoto bersama dua arca tersebut.

Candi Plaosan merupakan candi Buddha dengan atap candi berbentuk stupa dan beberapa arca Buddha. Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno. Halaman Utama terletak di pusat kompleks bangunan, berbentuk persegi panjang, dikelilingi pagar pemisah yang memisahkan dua halaman. Di dalam halaman I berdiri dua bangunan induk yang berdampingan arah utara – selatan. Antara candi induk utara dan candi induk selatan dibatasi oleh pagar pembatas yang dihubungkan dengan sebuah gapura.

Mengapa di dalam halaman utama candi terdapat 2 buah candi induk dimana masing-masing candi induk tersebut dipisahkan oleh dinding pembatas dan masing-masing candi induk memiliki halaman? Ini adalah pertanyaan yang menarik. Candi induk utara dan selatan memiliki arsitektur yang sama atau bisa dikatakan kembar. Masing-masing candi induk juga memiliki pola tata ruang yang sama yaitu memiliki tiga bilik ruangan dimana masing-masing bilik terdapat arca-arca budha. Begitu pula dengan adanya lantai atas, seperti halnya bangunan Candi Sari yang terletak tidak jauh dari Plaosan. Pada bilik sebelah selatan, jika anda amati pada lantai, terdapat batu andesit berbentuk persegi panjang yang ada lubang-lubang yang diduga kuat sebagai bantalan tangga naik ke lantai atas. Lantai atas kemungkinan berfungsi sebagai tempat menaruh peralatan-peralatan upacara atau bahkan mungkin dipakai untuk tempat tidur para biksu.

Di antara persamaan-persamaan tersebut, jika mata anda jeli, maka anda akan menemukan perbedaan yang sangat signifikan. Dimanakah itu? Coba anda lihat relief-relief yang dipahat di dalam masing-masing bilik. Tema dari relief tersebut ialah adanya kunjungan peziarah yang berasal dari luar Indonesia (mungkin Persia) yang bisa dilihat berdasarkan busana/pakaian yang dikenakan oleh peziarah sebagaimana digambarkan pada relief tersebut. Jika kita bandingkan gambar relief di candi induk utara dan candi induk selatan, maka yang berbeda adalah figure yang digambarkan  pada relief tersebut. Pada candi induk selatan, figure yang digambarkan adalah laki-laki semua. Sementara di candi induk utara, figure yang digambarkan adalah perempuan semua. Hayoo….berbeda kan?

Relief yang menggambarkan orang asing

 

Berdasarkan literature yang pernah saya baca, antara candi induk utara dan candi induk selatan memang memiliki fungsi yang berbeda. Oleh karena itu, masing-masing memiliki halaman dan dipisahkan oleh dinding pembatas walaupun dinding tersebut terdapat pintu penghubungnya. Fungsi candi induk selatan memang dikhususkan untuk peziarah yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan candi induk utara khusus untuk peziarah perempuan. Hal tersebut didasarkan pada relief yang sudah saya jelaskan tadi. Percaya tidak?

 

arca budha di candi induk selatan

Candi Plaosan sebenarnya merupakan kompleks candi yang luas. Hal itu dapat dilihat dari adanya pagar keliling sepanjang 460 m dari utara ke selatan serta 290 m dari barat ke timur, juga interior pagar yang terdiri atas parit sepanjang 440 m dari utara ke selatan dan 270 m dari barat ke timur. Parit yang menyusun bagian interior pagar itu bisa dilihat dengan berjalan ke arah timur melewati sisi tengah bangunan bersejarah ini.

Jika kita baca referensi mengenai candi Plaosan, maka akan disebutkan bahwa komplek percandian Plaosan terdiri dari candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul. Mungkin hal tersebut disebabkan karena secara sekilas  kedua candi tersebut memang berbeda karena terpisah. Antara candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul memang dipisahkan oleh jalan aspal, Namun jika kita lihat secara luas, sangat besar kemungkinan bahwa kedua candi tersebut memang merupakan satu kesatuan alias satu komples percandian Hal tersebut dapat dibuktikan dengan keberadaan parit keliling (kanal) yang mengitari dua candi tersebut. Dengan kata lain Plaosan Lor dan Plaosan Kidul masih berada di dalam satu parit/kanal. Yang menjadi permasalahan adalah hingga saat ini belum ditemukan indikasi adanya candi induk di Plaosan Kidul seperti halnya yang terdapat di Plaosan Lor.

 

candi induk utara

candi induk selatan

Tahun 2004, ketika saya masih menimba ilmu Arkeologi di UGM, saya pernah praktek lapangan berupa ekskavasi atau penggalian arkeologis di kompleks candi Plaosan Kidul. Tujuan utama dari kegiatan ekskavasi tersebut ialah mengetahui pola tata letak dari candi Plaosan Kidul tersebut dan mengetahui ada tidaknya candi induk. Dari hasil penggalian, ternyata misteri ada tidaknya candi induk di Plaosan Kidul masih menjadi tanda Tanya. Data-data yang diperoleh masih belum dapat menjawab pertanyaan di atas. Namun menurut hemat saya, bahwa antara candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul sebenarnya masih merupakan satu kompleks percandian. Hal tersebut diasumsikan berdasarkan kesamaan tata letak bangunan, arsitektur bangunan, dan keberadaan parit keliling yang mengitari kedua candi tersebut. Bila perkiraan saya benar, maka candi Plaosan (Lor dan Kidul) merupakan sebuah kompleks percandian yang sangat luas dan besar.

Sisi lain yang menarik dari Candi Plaosan ialah bahwa candi ini dapat dikatakan sebagai bukti fisik perpaduan antara agama Budha dan Hindu. Mengapa demikian? Berdasarkan latar belakang sejarahnya, candi ini memang dibangun oleh dua orang yang memiliki perbedaan latar belakang agama. Sri Kahulunan atau Pramodhawardani ialah anak dari pembesar wangsa syailendra yang beragama Budha, sedangkan Rakai Pikatan merupakan salah satu raja mataram Kuno yang beragama Hindu. Kedua insan tersebut kawin dan akhirnya mendirikan bangunan suci.

Arsitektur agama Budha dapat kita lihat pada keberadaan dua buah candi induk bersama stupa-stupa kecil yang mengitari candi induk, sedangkan arsitektur agama Hindu dapat kita lihat pada candi-candi perwara yang juga mengitari candi induk. Seluruh kompleks Candi Plaosan memiliki 116 stupa perwara dan 50 candi perwara.

 

stupa perwara dan candi perwara

Deretan candi perwara

Mungkin Rakai Pikatan serta Pramodhawardani ingin memberikan pesan kepada kita semua, bahwa perbedaan, entah agama, suku, ras, bukanlah sebagai penghalang untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Namun dapat dijadikan sebagai pemacu  untuk dapat memandang perbedaan sebagai hal yang lumrah, tentunya demi kehidupan yang lebih baik.

Iklan

Posted on 19 Oktober 2010, in budaya, candi, kuliner, perjalanan, sejarah, serba-serbi, wisata and tagged , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. thumbs up!good conclusion..tulisan menarik, tapi setelah saya baca sepertinya masih banyak data yang didasarkan pada asumsi. sebaiknya asumsi2 tersebut perlu segera dibuktikan. Hal ini selain agar pemikiran kita tidak terbatas pada asumsi semata (yang notabene masih diragukan kebenarannya), sekaligus dapat memberikan petunjuk kepada generasi penikmat benda budaya mengerti arti sejarah yg tersimpan.
    oh ya, masih ada juga diksi yg kurang tepat, bisa menimbulkan persepsi lain bagi pembaca.hohoho…cek sendiri ya…:)
    pesan yang disampaikan cocok sekali diterapkan di negara kita, sepakat deh…Perbedaan bukanlah alasan untuk tidak menghargai keberadaan ‘mereka’ yang ‘berbeda’ dengan kita, dan saya pikir akan tidak tepat sekiranya setiap dari kita bersikap primordial atas apa yg ada pada diri kita dan menjauhi sikap apatis terhadap mereka yang berbeda.

    saya juga tertarik tuh dengan cerita rakai pikatan dan pramodhawardani, mirip2 dengan shah jahan dan mumtaz mahal gak sih…tolong dilanjutin ceritanya ya, bagaimana akhirnya hubungan pernikahan dua orang yg berbeda tersebut…hahaha..oops,maksud saya berhasilkah misi di masa lalu tersebut dalam menyatukan perbedaan…
    cek tuh lagunya marcel siahaan yang baru,yg model video klipnya arumi bachsin, apakah seperti itu endingnya?(maklum saya buta sejarah)

  2. ini koment malah mirip artikel..hehe..thanks komentnya..
    saya setuju kalo memang masih banyak asumsi asumsinya, kenapa? karena amunisi para arkeolog untuk membaca masa lalu memang hanya data-data yang ditemukan dilapangan atau dimana saja.kenapa masih banyak asumsi?karena selama ini kelemahan atau kendala dari para ahli arkeologi adalah minimnya data. Sangat banyak sekali kelemahan data-datanya. Seperti misalnya perbedaan bahasa yang digunakan di dalam prasasti, seringkali satu kalimat prasasti saja penafsirannya bisa sangat beraneka rupa. selain itu juga banyak data-data sejarah atau arkeologi yang sifatnya fragmentable atau tidak utuh sehingga menyulitkan arkeolog untuk membuat sebuah kesimpulan yang relatif mendekati kebenaran. Saya katakan disini bahwa tidak ada satupun hasil penelitian arkeologi yang 100 % benar. Banyak celah-celah untuk menggugurkan sebuah hipotesis ketika ditemukan data-data yang baru.
    Inilah uniknya penelitian arkeologi. Semuanya serba asumsi, tergantung kekuatan datanya. Siapa tahu candi pada masa lalu hanya lah sebagai tempat untuk galeri arca..hehe..tapi peneliti jaman sekarang seolah-olah menganggap jaman dulu itu penuh dengan keseriusan.
    Tertarik ya sama cerita nya rakai pikatan vs pramodawardhani?

  3. gimana keadaan setelah tersiram abu Merapi ya?

  4. saya belum nengok lagi je mas,
    sepertinya saran yang bagus untuk melihat kondisi candi-candi pasca erupsi merapi, contoh yang memprihatinkan misalnya borobudur dan sekitarnya. walaupun sudah diguyur hujan tapi tidak lantas hilang begitu saja sisa-sisa material vulkaniknya

  5. keren ya kahasanah budaya kita!! ah tapi sekarang sudah banyak yang lupa dengan nilainilai lokal macam ini.. jadi sedih juga kalau dipikirpikir.. 😦

  6. bener mas, memang kebudayaan membutuhkan suatu minat khusus. tidak semua orang menyukainya. justru masyarakat asing yang sangat menikmati kebudayaan kita

  7. udah saya tambahin ke blogroll mas… happy blogging 😀

  8. Pokoke kabeh sing ana hubungane karo budaya indonesia ki pancen joss tur eksotis…

    Salam kenal kang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: