Coto, Benteng, Hingga Jalan Nusantara Kota Makasar

Kapal Tunas Wisesa 03

Di pagi yangsangat cerah itu, kiranya pukul 10.00 WITA, rombongan peserta Sail Banda yang berlayar  dari Jakarta menuju Ambon tiba di Kota Daeng alias Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan.  Tim tiba di Makasar setelah sebelumnya sempat singgah selama 1 hari di Surabaya untuk mengangkut atlit-atlit olahraga layar dan selam beserta perlengkapannya. Perjalanan dengan menggunakan KM. Tunas Wisesa 03 milik Grup Artha Graha ini ditempuh sekitar  2 hari dengan kecepatan 11 knot. Perjalanan via laut ini terasa begitu berat karena kondisi ombak saat itu cukup tinggi, sekitar 3 meter. Walaupun kapal yang kami tumpangi dapat dikatakan berukuran raksasa, namun ternyata tidak mampu bertahan untuk tidak bergoyang. Alhasil, para penumpang yang ikut perjalanan ini pun pada tumbang alias muntah.

Beberapa mil mendekati Pelabuhan Sukarno Hatta Makasar, tampaklah sebuah pemandangan khas dermaga dengan kapal-kapal yang sedang melakukan segala aktifitasnya, entah itu menaikkan penumpang yang akan berlayar menuju pulau lain ataupun kapal-kapal kecil yang membawa sayur-mayur hasil belanja di Kota Makasar. Begitu tahu kapal akan merapat, wuuhh, spontan saja para penumpang yang kebanyakan lelaki tulen ini langsung masuk kamar mandi untuk sekedar membasahi tubuhnya dengan sabun. Sudah dapat dipastikan, semprotan minyak wangi langsung bertebaran dimana-mana. Mulai dari parfum refill yang harga seribuan per millimeter sampai parfum yang menelan duit ratusan ribu untuk mendapatkan keharumannya. Aneka macam pokoknya.

Beberapa jam sebelum Tunas Wisesa merapat di dermaga, para penumpang sudah berada di sisi kapal. Yah, ada yang sekedar pengen mencuci matanya melihat keindahan Kota Makasar dari laut karena selama 2 hari yang dilihat hanyalah air laut ditemani rasa mual di dalam perut. Selain itu ada juga yang tidak ingin melewatkan momen baik dengan berfoto-foto ria berbekalkan background pelabuhan Sukarno Hatta. Lengkap sudah. Ternyata kapal tidak merapat di pelabuhan umum, akan tetapi di dermaga Fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan lupa…hahaha) milik TNI Angkatan Laut. Disitu kapal tidak dapat sandar dengan sempurna karena kondisi air laut sedang surut, sehingga perlengkapan-perlengkapan olahraga bahari milik atlit yang naik dari Makasar kesulitan untuk masuk lambung kapal.

Salah satu pulau di perairan Makasar

Seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini aku beserta kedua temanku dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yoki dan Sutrisno, langsung bergegas keluar kapal dan “melarikan diri” untuk sementara waktu berputar-putar menyusuri Kota Makasar. Kata orang-orang, belumlah afdol kalo berkunjung Makasar namun belum mencicipi dahsyatnya makanan khas Kota Daeng yaitu Coto Makasar. Begitu keluar kompleks Fasharkan TNI AL, kami pun langsung menghentikan langkah kaki kami di sebuah warung kecil, barangkali hanya dapat menampung 10 orang, untuk sekedar mencicipi Coto Makasar sebagai menu sarapan kami. Coto kami “hajar” dengan ditemani beberapa ketupat dan buras. Kuahnya memang sangat kental, membuat aroma masakan ini cukup memikat untuk menyantapnya. Dan ternyata memang ‘maknyuuss’. Disamping rasanya yang enak, harganya pun juga sangat enak alias tidak terlalu mahal sehingga tidak perlu khawatir dengan keadaan kantong kita.

Selesai menyantap Coto, kami pun bergegas melanjutkan langkah kaki menuju pemberhentian berikutnya. Namanya juga pendatang, tidak ada guide, kami pun kebingungan mau naik apa ya? mau naik pete-pete juga tidak tahu. Ah, untung banyak becak yang mangkal di setiap ujung jalan. Becak di Makasar bentuknya boleh dikatakan lucu. Karena apa? Karena bentuknya mungkin sangat tidak lazim atau barangkali tidak mengikuti pakem pembuatan becak seperti halnya yang ditemukan di Pulau Jawa.  Bentuknya memang sangat kecil, jadi kalo sekiranya anda memiliki tubuh yang ukurannya jumbo, jangan coba-coba deh, mungkin tidak muat.

Setelah tawar menawar harga yang cukup sengit dengan abang becak, tercapailah kesepakatan. Kemana bang? Kami pun langsung menjawab,”ke benteng  bang”. Abang becak itu pastilah sudah tahu benteng yang kami maksud, yah…benteng Fort Rotterdam. Benteng tua peninggalan Kolonial Belanda yang dibangun persis di depan pantai sehingga sangat jelas sekali bahwa benteng ini dibangun sebagai sarana pertahanan dari arah laut. Untuk mencapai benteng tidaklah memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 15 menit. Becak pun diarahkan menuju Jalan Nusantara. Anda tahu Jalan Nusantara? Inilah jalan protokol yang sangat terkenal di seantero Kota Makasar. Di saat siang hari kawasan ini tampak seperti layaknya jalanan pada umumnya. Sepi. Disitu memang banyak bertebaran tempat-tempat hiburan seperti karaoke, pijat, hotel, dan lain-lain. Tapi kok sepi ya?Tunggu dulu, coba anda tunggu deh sampai malam hari. Jika jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA, kerlap kerlip lampu segera menghiasi kawasan tersebut. Disitu pula segera muncul gadis-gadis seksi di pinggir jalan ataupun di depan pub-pub yang siap menemani anda jika anda berkenan.

Lima belas menit berlalu, kami pun sampai di depan sebuah benteng yang megah dan tidak lain adalah Fort Rotterdam. Ya, benteng yang menjadi sasaran kami. Memasuki kompleks benteng ini, kita akan disambut oleh sebuah gapura yang menjadi pintu masuk utama benteng. Beberapa petugas keamanan akan menyambut para pengunjung dan selanjutnya mengarahkan anda ke sebuah ruangan untuk mengisi buku tamu. Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung ke dalam kompleks benteng ini, namun tiketnya bersifat sukarela atau sesuai dengan keinginan anda ingin mengeluarkan uang berapa.

Memasuki kompleks benteng ini, anda akan dijamu oleh taman-taman indah berwarna hijau dan beberapa buah bangunan yang sudah direnovasi sesuai dengan kondisi aslinya pada saat benteng ini masih digunakan oleh Belanda. Menurut penuturan kawan lama saya yang asli Makasar dan saat ini bekerja di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar, Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Suasana di dalam komplek benteng Fort Rotterdam

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Pada tahun 1667 ketika raja Gowa dikalahkan Belanda, semua benteng dimusnahkan kecuali Rotterdam. Sedangkan Benteng Somba Opu setelah dua tahun kemudian dihancurkan secara total oleh Belanda.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Di depan Museum La Galigo

Ketika sore telah tiba, cobalah untuk menyempatkan diri naik ke salah satu bastion (sudut) benteng Fort Rotterdam, sebuah pemandangan yang mengasyikkan akan anda dapatkan. Ya, sunset. Pengunjung dapat menikmati indahnya sunset dari atas bangunan ini karena letak benteng ini memang berada persis di depan pantai. Di sisi-sisi benteng yang menghadap ke pantai terdapat beberapa lubang bekas tempat menaruh meriam-meriam sebagai sarana pertahanan jika ada serangan dari arah laut.

Jika anda ingin mencari cinderamata atau barangkali sekedar buah tangan khas Kota Makasar dan sekitarnya, maka ketika anda keluar dari benteng ini, belokkanlah langkah kaki anda kea rah kiri. Begitu anda menjumpai pertigaan, coba deh belok kiri lagi. Di situ anda akan menjumpai beberapa took yang menjual oleh-oleh khas Sulawesi. Mengapa Sulawesi? Karena yang dijual di toko ini bukan hanya khas Makasar, namun juga dari daerah-daerah sekitar  Makasar seperti Tana Toraja. Di sini dijual aneka macam kerajinan, makanan, dan lain-lain dengan harga yang cukup terjangkau. Kaos semua ukuran dibanderol seharga 25 ribu rupiah, sedangkan sarung kain songket dengan aneka motif dihargai 25 ribu rupiah. Murah bukan? Anda juga dapat menemui aneka kerajinan dari kayu seperti miniature rumah khas Tana Toraja, asbak Toraja, patung-patung, dan juga yang tidak kalah penting adalah kopi hitam Tana Toraja. Kopi Tana Toraja sudah sangat terkenal kenikmatannya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saya sudah membuktikan kehebatan rasanya beberapa tahun yang lalu ketika saya berkesempatan menjelajahi selama 5 hari dengan berjalan kaki untuk menikmati keindahan alam dan kebudayaan Tana Toraja. Apalagi jika kopi ini diseruput ketika hujan turun, wah, kekentalan, kehangatan,  dan keharumannya semakin menambah romantisme musim hujan.

Patung Sultan Hasanuddin

Setelah selesai membelanjakan sebagian uang saya untuk membeli kenang-kenangan bagi teman dan saudara, kami pun segera menghadang taksi untuk segera kembali menuju dermaga tempat dimana kapal Tunas Wisesa 03 berada. Sekembali di kapal, ternyata kapten kapal memberitahukan bahwa kapal tidak dapat berangkat ke Ambon sore itu karena terdapat kerusakan pada hidrolik kemudi, maka keberangkatan kapal pun ditunda sampai esok hari. Tentu anda sudah dapat menebak apa yang dilakukan oleh para penumpang kapal pada malam itu di Makasar. Tentu saja jalan-jalan menikmati indahnya satu malam di Makasar, dimana lagi kalau bukan Jalan Nusantara. Gemerlap lampu warna-warni sudah siap menyambut teman-teman yang memang sudah merencanakan mengunjungi kawasan itu sebelumnya. Tempat karaoke, pijit, hotel, sudah menampakkan wajah aslinya. Gadis-gadis dengan pakaian super seksi pun sudah siap menanti di depan pintu-pintu masuk tempat hiburan. Yah, inilah kehidupan sesungguhnya dari apa yang dinamakan Jalan Nusantara.

Keesokan harinya kapal pun telah siap untuk mengarungi lautan luas menuju pemberhentian terakhir yaitu Ambon, tempat dimana akan diselenggarakan perhelatan bertaraf internasional yaitu SAIL BANDA 2010. Event dimana para penumpang kapal Tunas Wisesa akan menunjukkan kebolehannya dalam memainkan peralatan olah raga layar mereka. Ombak setinggi 5 meter siap menghadang kami, berdasarkan info dari BMG yang menyebutkan bahwa perairan Laut Banda dalam keadaan merah alias ketinggian ombak mencapai 5 meter. Tidak diperkenankan kapal-kapal melintasi perairan ini sampai kondisi laut benar-benar aman untuk berlayar. Tetapi, ternyata Kapten kapal nekat, kapal pun tetap berjalan. Selamat tinggal Makasar. Selamat datang di Ambon.

Iklan

Posted on 3 September 2010, in arkeologi, budaya, kelautan, perjalanan, sejarah and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. mau lebih tau lg ttg KM. tunas wisesa 03

    • aku belum begitu tahu banyak tentang kapal tersebut. sedikit saja, salah satu nya adalah kapal tersebut kepunyaan Tommy Winata. Inisialnya sama kan?TW.
      Setahu ku rencananya bulan oktober nanti kapal tersebut akan jadi dermaga/pelabuhan ikan terapung di indonesia timur.bener gak?hehee..maaf kalo salah.
      Fungsi sebelumnya kalo tidak salah digunakan sebagai kapal roro. Tommy Winata kan juga pengusaha yang salah satunya bergerak di bidang perikanan tangkap. Kemaren kan rencana kapal tersebut gak langsung pulang ke jakarta pas dari ambon, karena salah satu misinya ya survei ke wilayah2 terluar seperti pulau rote dan sebagainya.mohon masukannya bro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: