Romantika Warisan Budaya Masa Lalu

“Saya bangga jadi anak Indonesia karena banyak sejarah
yang dapat diambil pelajaran”.

Itulah sedikit celotehan yang dituangkan oleh seorang pelajar SD di atas selembar kain kesan dan pesan ketika menyaksikan pameran purbakala yang diadakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang di Kota Cirebon beberapa waktu lalu. Sepintas, satu baris kalimat tersebut tampak sangat sederhana, namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Tentu kita harus menakarnya dari posisi berapa usia anak tersebut. Jika yang melontarkan kalimat tersebut adalah anak seusia SMA, sudah pasti itu ialah hal yang biasa.

Indonesia adalah sebuah negeri kepulauan yang seolah tidak pernah bosan merasakan manis pahit perkembangan peradaban. Dimulai dari peradaban yang paling primitif yaitu ketika manusia masih menggantungkan hidupnya pada batu-batuan, kemudian ketika masyarakat disuapi doktrin-doktrin agama Hindu dan Budha hingga tercipta megahnya Candi Borobudur. Perjalanan tidak berhenti sampai di situ saja. Pengaruh agama Islam pun seolah tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam percaturan kebudayaan di Indonesia. Adalah makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik, yang sampai saat ini masih dipercaya sebagai bukti tertua masuknya masyarakat muslim di Pulau Jawa. Ketika penjajah Kolonial Belanda menapakkan kakinya di Indonesia, imbasnya terasa sangat luas. Semua lini kehidupan terpengaruh oleh budaya barat yaitu secara fisik dan mental yang termanifestasikan dalam beragam bentuk.
Pada era sekarang ini, masyarakat Indonesia diuji ketahanannya dari dahsyatnya serbuan budaya asing yang mendera setiap sektor kehidupan. Jika ditarik ke belakang ternyata hal tersebut pun telah terjadi pada masa lampau seperti yang telah diuraikan di atas. Ketika manusia prasejarah dihadapkan pada sebuah kebudayaan asing, yaitu India, mereka dengan sangat mudah dapat menerimanya. Dalam hal keyakinan, hampir terdapat persamaan pada kedua kepercayaan tersebut, yang paling utama adalah objek dari sesuatu yang mereka puja. Masyarakat prasejarah, sebelum mengenal agama Hindu, mendasarkan kepercayannya kepada hal-hal gaib dalam hal ini nenek moyang mereka. Mereka percaya akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama pengaruh kuat dari nenek moyang yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman, sehingga dalam setiap prosesi ritualnya selalu berkaitan dengan hal tersebut.
Ajaran yang dibawa oleh orang-orang India ketika masuk di nusantara tidaklah jauh berbeda dari kepercayaan kaum prasejarah. Jika masyarakat prasejarah percaya kepada hal-hal gaib seperti roh nenek moyang, maka dalam agama Hindu pemujaan ditujukan kepada para dewa trimurti ,yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu yang diwujudkan dalam bentuk arca. Dari kemiripan ini, tidak mengherankan jika masyarakat prasejarah begitu mudah menerima sistem yang baru dalam kehidupan mereka. Namun, sangatlah gegabah kiranya jikalau kita terlalu cepat menarik kesimpulan betapa mudahnya orang-orang India menanamkan pahamnya kepada mereka. Tentu saja banyak sekali kesulitan yang dihadapi terutama sekali dalam hal bahasa penyampaian.
Kreatifitas
Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan nilai-nilai tradisional, akan sangat ironis tatkala nilai-nilai tersebut hilang begitu saja diterkam budaya-budaya luar yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Begitu banyaknya warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, baik absrak ataupun konkret, yang dapat membangkitkan semangat persatuan bangsa ditengah-tengah kemajemukan budaya bangsa. Sebuah pertunjukan spektakuler yang ditampilkan pada saat puncak peringatan 100 tahun Indonesia Bangkit, dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk menunjukkan bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yaitu didukung oleh ribuan hasil budaya bangsa.
Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia pada masa lampau ialah orang-orang yang kreatif terutama dalam mengelola arus globalisasi masa lalu. Serangan budaya asing yang mendera mereka begitu kuat, sehingga diperlukan sebuah saringan yang mampu mengontrol kebudayaan baru itu. Saringan itu adalah kreatifitas. Dengan adanya kreatifitas, manusia dapat mempertahankan hidup contohnya dalam beradaptasi dengan lingkungan baik fisik maupun budaya. Bangsa Indonesia harus bangga memiliki nenek moyang yang kreatif yaitu kreatif dalam segala hal khususnya dalam memadukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda sehingga terciptalah sebuah bentuk budaya yang baru yang dapat diterima masyarakat luas.
Salah satu contoh budaya materi hasil karya nenek moyang adalah bangunan punden berundak sebagai representasi upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang. Bangunan ini banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, contohnya adalah Lebak Sibedug yang ada di Kabupaten Lebak, Pugungraharjo Lampung, dan sebagainya. Para ahli menyepakati bahwa bangunan ini adalah sebagai cikal bakal dari bangunan candi, ambil saja contoh Candi Borobudur. Hal inilah yang memberikan nilai lebih kepada candi-candi yang ada di Indonesia karena ternyata sangat berbeda dengan pakem aslinya yang ada di India. Di Indonesia, candi yang memiliki arsitektur hampir sama dengan gaya di India hanya terdapat di kompleks percandian Dieng Wonosobo, sedangkan lainnya adalah hasil kreatifitas masyarakat Indonesia.
Local wisdoms
Sebaris kalimat pembuka di atas bagi saya adalah hal yang patut ditanamkan pada benak anak-anak Indonesia yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Ketika nilai-nilai luhur budaya bangsa mulai terkikis dan bahkan suatu saat akan hilang, maka bangsa ini telah kehilangan identitas aslinya. Walaupun pada kenyataannya kita tidak boleh menafikan bahwa sebuah kebudayaan pasti akan mengalami perubahan seperti halnya yang terjadi pada masa lalu. Namun, yang paling penting adalah apa yang dapat kita ambil pelajaran dari masa lalu untuk menapak masa depan yang lebih baik. Satu hal yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia ialah bahwa nenek moyang telah mewariskan kepada kita ratusan bahkan ribuan kearifan local masyarakat masa lalu, baik dalam bidang hukum, budaya, sosial, ekonomi, religi, dan lainnya.
Ketika beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia dihebohkan oleh pertikaian yang berbau SARA di beberapa daerah yang harus mengorbankan banyak nyawa, seharusnya kita malu jika dipaksa untuk membuka kembali buku catatan masa kebudayaan Hindu-Budha-Islam di Jawa Timur. Pada masa itu, agama yang berkembang di masyarakat ialah Hindu dan Budha sebagai agama mayor dan Islam sebagai agama minor. Keberadaan masyarakat muslim sudah mulai tampak pada masa ini. Jika kita mengunjungi salah satu situs makam di Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur, kita serasa menggunakan mesin waktu kembali ke abad XV, dimana kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah nusantara. Kita dapat membayangkan betapa indahnya hidup pada masa itu, hidup di dalam sebuah masyarakat yang menunjung tinggi toleransi beragama.
Di area situs tersebut terdapat dua buah kompleks makam yang bernama Makam Syekh Jumadil Qubro dan Makam Tujuh. Makam yang pertama keadaannya sudah kacau balau karena pemanfaatan yang sangat bertentangan dengan pelestarian. Semuanya sudah berhiaskan keramik putih. Sedangkan makam yang kedua keadaanya masih asli karena belum terjamah orang yang tidak bertanggung jawab (mudah-mudahan jangan sampai). Hal yang menarik dari keberadaan Makam Tujuh ini adalah adanya inskripsi / tulisan pada kedua sisi nisan. Pada nisan sisi dalam, terdapat ukiran berbentuk logo kerajaan milik Hayam Wuruk yaitu Surya Majapahit. Di tengah-tengah logo tersebut terdapat angka tahun dalam aksara Jawa Kuna. Sedangkan di sisi luar, terdapat kaligrafi Islam yang berbunyi lailahailallah (maksud tulisan semula) namun terdapat kekurangan satu huruf sehingga tidak berbunyi sebagaimana mestinya.
Data di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pada masa itu toleransi beragama memang dipegang sangat kuat. Agama Islam sebagai agama minor pada masa itu diberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat sehingga mereka dapat hidup secara rukun. Contoh yang sampai saat ini masih berlangsung dapat kita jumpai di Pulau Sakenan, Bali, dimana komunitas masyarakatnya terdiri dari dua agama yakni Hindu dan Islam. Yang menarik adalah bahwa ketika salah satu kelompok agama tersebut mempunyai hajatan misalnya bersih pura, maka orang-orang yang beragama Islam akan dengan senang hati membantunya, begitu pula sebaliknya.
Dari uraian tersebut di atas kita dapat memikirkan kembali kondisi bangsa Indonesia yang notabene kaya akan kemajemukan budaya namun pada sisi yang lain sangat rawan terhadap konflik. Jika kita baca lagi sebaris kalimat pembuka di atas, maka apa yang disampaikan oleh pelajar SD itu patut kita renungkan kembali. Pesan utama yang ingin disampaikan oleh anak tersebut ialah bahwa nenek moyang kita telah mewariskan betapa indahnya nilai-nilai local wisdoms masa lalu. Apa yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu bangsa beberapa abad silam sangatlah masih rasional untuk kita ambil pelajaran pada masa kini karena pada dasarnya peristiwa-peristiwa masa lalu pasti akan terjadi lagi pada masa kini, sehingga kita dapat mengambil pelajaran untuk menapak masa depan yang lebih baik.

(pernah dimuat di harian Fajar Banten)

Iklan

Posted on 30 Agustus 2010, in arkeologi, artikel, budaya and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: