Ada Apa sih di Balik Komik Doraemon ??

Manusia sebagai makhluk budaya, mengandung pengertian bahwa manusia menciptakan budaya dan kemudian kebudayaan memberikan arah dalam hidup dan tingkah laku manusia. Kebudayaan paling sedikit mempunyai tiga kategori yaitu:
a. Berupa wadah bagi suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan. Hal-hal ini berada dalam pikiran warga masyarakat, atau dalam tingkat perkembangan tertentu sudah berupa tulisan-tulisan, karangan-karangan warga masyarakat yang bersangkutan.
b. Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas manusia yang berpola, menciptakan suatu sistem sosial bagi masyarakat yang bersangkutan.
c. Berupa wadah untuk menghasilkan benda-benda pakai dan karya seni, berbentuk nyata sebagai obyek riil, seperti bangunan rumah, lukisan, patung, kerajinan, dan lain-lain (Koentjaraningrat, 1974: 200-201).

Menurut Kroeber dan Kluckholn, kebudayaan terdiri dari pola-pola yang nyata maupun tersembunyi, mengarahkan perilaku yang dirumuskan dan dicatat oleh manusia melalui simbol-simbol yang menjadi pengarah yang tegas bagi kelompok-kelompok manusia; termasuk perwujudannya dalam barang-barang buatan manusia. Di satu pihak sistem-sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil tindakan, di pihak lainnya sebagai landasan (unsur-unsur) yang mempengaruhi tindakan selanjutnya (Said, 2004: 2).
Setiap karya dari manusia dilaksanakan dengan suatu tujuan, yaitu bahwa setiap benda dari alam di sekitarnya yang diolah dan dikerjakan manusia mengandung dalam dirinya suatu nilai tertentu. Setiap benda budaya paling sedikit menandakan suatu nilai tertentu, dalam upaya mencapai hasil yang optimal, untuk menunjukkan maksud dan gagasan-gagasan penciptanya (Said, 2004: 2)..
Karya budaya manusia penuh dengan simbolisme, sesuai dengan tata pemikiran atau paham yang mengarahkan pola-pola kehidupan sosialnya. Kebudayaan itu sendiri adalah kesatuan dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia, sehingga tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa begitu eratnya kebudayaan dengan simbol-simbol yang diciptakan manusia sehingga manusia dapat disebut sebagai homo symbolicum (Said, 2004: 3).
Kata simbol berasal dari kata Yunani, yaitu symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Tanda dipergunakan untuk menjalin hubungan antara pengirim pesan dan penerima pesan. Terdapat sejumlah jenis tanda yang dimanfaatkan dalam suatu sistem tanda, dimana tanda dan sistem tanda tidak terpisahkan. Salah satu dari jenis tanda tersebut adalah simbol.
Pengertian simbol yang lebih spesifik adalah tanda yang diwujudkan sebagai bentuk visual bagi sesuatu makna tertentu, yang abstrak, yang bersifat komunikatif bagi masyarakat tertentu, namun tidak bagi masyarakat lainnya. Untuk mengetahui simbol-simbol yang terdapat dalam masyarakat dibutuhkan pengetahan mengenai sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat itu, termasuk pandangan hidupnya (Said, 2004: 6). Sedangkan menurut Spradley (1997), simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjukkan pada sesuatu (1997: 121). Simbol bukan lagi sesuatu yang asing, yang tidak terjangkau, tetapi telah menjadi bagian yang sangat dikenal oleh anggota masyarakat itu sendiri (Praptantya, 2002: 21).
Salah satu karya budaya manusia yang penuh dengan simbol adalah komik yang telah muncul ratusan tahun yang lalu. Komik adalah gambar-gambar atau lambang-lambang lain yang terjukstaposisi dalam turutuan tertentu, untuk menyampaikan pesan atau informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembacanya (McCloud, 2001: 9). Komikus memiliki alam semesta penuh simbol yang dapat digunakan sebagai pesan kepada penerima pesan. Masyarakat terus-menerus menciptakan simbol baru, seperti yang dilakukan oleh komikus (McCloud, 2001: 58).
Komik menggambarkan banyak hal tentang apa yang terjadi di dalam masyarakat selama periode tertentu (Inasari, 2002: 83). Komik benar-benar sebagai bagian dari pendidikan dan sebagai alat yang berharga untuk menyebarkan informasi termasuk ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Pengetahuan dapat dikirim secara cepat dan lebih efektif melalui komik sebagai media komunikasi (Masdiono, 1998: 8).
Komik yang sangat menarik untuk dikaji dalam kajian simbol adalah komik Doraemon karya kelompok Fujio F Fujiko pada tahun 1970. Komik tersebut diciptakan ketika Jepang sedang gencar-gencarnya mengusahakan perbaikan ekonomi antara lain dengan usahanya di bidang industri dan teknologi.
Doraemon adalah cerita tentang seekor robot kucing yang diciptakan Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Sejak tahun 1967 keduanya aktif menghasilkan karya-karya komik popular dengan nama kelompok Fujio F Fujiko. Fokus cerita komik ini adalah tentang robot kucing tanpa telinga menggunakan energi atom. Robot tersebut akan berhenti bekerja bila ditarik ekornya. Diceritakan Doraemon dilahirkan pada tanggal 3 September 2112 di sebuah pabrik robot dengan tinggi 129,3 cm dan berat 129,3 kg. Objek utama dalam Doraemon adalah kemampuannya menyediakan alat-alat yang serba canggih yang dapat mengatasi segala macam masalah, misalnya adalah mesin waktu, pintu ke mana saja, baling-baling bambu, dan alat-alat canggih lainnya.
Lalu, bagaimana sih hubungannya antara komik doraemon dengan masyarakat Jepang ??

Gambaran Umum Kondisi Masyarakat Jepang
Tujuh tahun setelah berakhirnya perang dunia II, dalam bulan September 1951 jepang menandatangani perjanjian perdamaian di San Fransisco dengan 48 bangsa lain. Jepang memperoleh kembali kemerdekaan dan kedaulatannya dalam bulan April 1952, pada saat perjanjian perdamaian mulai berlaku. Jepang diberi hak kembali sebagai anggota masyarakat dunia, mengakhiri periode peralihan yang pahit (Mangandaralam,1995: 23).
Diterimanya kembali Jepang dalam masyarakat dunia merupakan titik awal kebangkitan sebuah Jepang baru. Dalam waktu yang relatif singkat, pada awal dasawarsa tujuhpuluhan, Jepang kembali diakui sebagai salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia. Rahasia keberhasilan Jepang dalam mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang demikian maju adalah kerja keras dalam membangun kembali Jepang yang porak poranda, sebagai salah satu bentuk patriotisme dan semangat “bushido” dalam era baru (Mangandaralam,1995: 23).
Jepang mulai bangkit dari kehancurannya sejak tahun 1955 yang ditandai dengan munculnya inovasi teknologi dan pertumbuhan perekonomian yang pesat. Bahkan sejak tahun 1960-an perubahan berar itu ditandai pula dengan beralihnya sikap sosial masyarakat Jepang terhadap keterbukaan dunia barat yang ditandai dengan munculnya produk-produk yang berbau Amerika di berbagai pusat perbelanjaan (Tsurumi, 1987: 28).
Selama tahun 1960-an, kemajuan besar tercatat dalam pemerataan standar hidup di seluruh negeri dan dikembangkan lebih banyak kemungkinan pilihan untuk mengisi waktu-waktu senggang. Pengaruh penemuan dan penggunaan luas alat-alat listrik modern meningkatkan taraf penghidupan rumah tangga penduduk Jepang (Mangandaralam,1995: 61).
Kemajuan Jepang, terutama sektor industrinya, pada hakikatnya didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sektor pendidikan menjadi salah satu sarana penting dalam kegiatan dan kehidupan nasional bangsa Jepang. Peranan pokok riset ilmiah di Jepang dimainkan oleh universitas dan lembaga risetnya. Manajemen administratif riset pada bidang ilmu pengetahuan terapan dan teknologi berada di bawah naungan Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kantor Perdana Menteri. Badan ini dibentuk tahun 1959. Kegiatan penelitian ilmiah di jepang meliputi berbagai bidang ilmu dan teknologi, antara lain riset energi nukir, riset ruang angkasa, riset dan observasi Antartika di Kutub Selatan, serta riset-riset bagi kemajuan sector industri, di samping riset oseanologi dan sumber daya alam. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di Jepang dapat dinilai dari munculnya tiga orang tokoh terkemuka Jepang yang telah mendapat hadiah Nobel, yaitu Dr. Hideki Yukawa, Dr. Shinichro Tomonaga, dan Dr. Leona Esaki, semuanya dalam bidang Fisika, masing-masing pada tahun 1949, 1965, dan 1973 (Mangandaralam,1995: 77).
Pemuda-pemuda Jepang dikirm ke Eropa Barat dan AS untuk mempelajar keadaan di sana dan mengeduk ilmu. Rasa cinta mereka kepada tanah airnya sebagai samurai begitu besar, kini menunjukkan patriotismenya dalam hal belajar sebanyak mungkin. Sekembalinya di Jepang, mereka menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuanya yang berbahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan lain-lain ke dalam bahasa Jepang. Ini merupakan jalan terpenting untuk memasukkan ilmu pengetahuan modern (yang bersumber dari Barat) ke dalam kebudayaan Jepang. Sebab dengan diterjemahkannya buku-buku ke dalam bahasa Jepang, ilmu pengetahuan dapat diraih oleh rakyat pada umumnya yang belajar di sekolah-sekolah (Suryohadiprodjo, 1987: 202-203).
Untuk memperoleh teknologi modern, Jepang harus berjuang yang tidak ringan, sebab dunia Barat tidak mau memeberikan kemampuannya begitu saja secara Cuma-Cuma. Jepang harus membelinya dengan mahal, atau harus mengeluarkan tenaga pikiran dan waktu yang tidak sedikit untuk memperoleh kemampuan tersebut. Tetapi karena bertekad untuk menyamai Barat, maka Jepang bersedia melakukan segala sesuatu untuk itu, termasuk mempelajari gerak-gerik orang-orang Barat yang menjalankan mesin atau pabrik, bahkan mencuri rahasia-rahasia Barat dalam industri dan teknologi.Jepang membeli alat-alat seperti lokomotif dan pabrik-pabrik, yang satu langsung dipakai, tetapi yang lain dibongkar untuk dipelajari dan diusahakan untuk dibuat sendiri. Maka lambat laun teknologi pun menjadi bagian budaya Jepang (Suryohadiprodjo, 1987: 203).
Sejak Restorasi Meiji ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian penting dalam kebudayaan Jepang, tidak kalah pentingnya dari perkelahian Sumo atau merangkai bunga Ikebana. Terutama setelah Perang Dunia II, Jepang makin merasakan perlunya peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab dalam perang itu, untuk pertama kali dalam sejarahnya bangsa Jepang dikalahkan. Tetapi ia menyadari bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh ketinggalannya dalam industri dan teknologinya dari AS. Oleh karena itu pemusatan perhatian kepada peningkatan ilmu pegetahuan dan teknologi bukan main besarnya (Suryohadiprodjo, 1987: 203).
Faktor pendidikan berpengaruh besar sekali kepada pertumbuhan Jepang menjadi negara yang modern dan kuat dalam bidang ekonomi, karena pendidikan yang meluas itu menciptakan tenaga manusia yang cakap dalam proses produksi dalam jumlah besar. Pada mulanya pendidikan wajib di Jepang hanya berlangsung selama 4 tahun, namun kemudian dapat diperpanjang menjadi 6 tahun, kemudian setelah Perang Dunia II menjadi 9 tahun.
Masyarakat Jepang selalu berpikir bagaimana membuat perubahan terhadap kondisi kehidupannya. Sikap dan pemikiran demikian merupakan motivasi dalam diri pribadi kebanyakan orang Jepang pada umumnya. Hal tersebut dapat dijumpai pada setiap diri pribadi, keluarga maupun sekelompok orang di negara Jepang yang memiliki pandangan-pandangan atau paradigma yang berorientasi ke depan untuk kemajuan dalam setiap aspek kehidupannya (Michiko, 2002:1).
Perubahan adalah tuntutan mutlak bagi kehidupan masyarakat Jepang dan perubahan ke arah kemajuan tersebut merupakan suatu kekuatan untuk berhadapan dengan dunia luar. Perubahan yang sangat pesat terjadi pada pertengahan abad XX, yang mempengaruhi perekonomian dunia secara keseluruhan. Samuel P Huntington mengatakan bahwa pengaruh kemajuan masyarakat Jepang dimulai pada tahun 1980-an. Pada saat itu Jepang menjadi negara paling kuat di dunia. Perubahan kemajuan masyarakat Jepang tidak mampu diimbangi oleh negara-negara barat manapun, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat. Orang Jepang membuat perubahan untuk kemajuan hanya dalam waktu 33 tahun. Kemajuan yang dicapai masyarakat Jepang telah berpengaruh sangat penting terhadap kemajuan masyarakat asia pada umumnya (Huntington,2000:177-183).
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Jepang dilandasi oleh pandangan dan sikap masyarakat Jepang terhadap keseluruhan moral dan budaya yang mengandung nilai-nilai untuk dijadikan pandangan hidup. Keberadaan budaya Jepang disebabkan oleh sikap masyarakat Jepang yang mengutamakan kebudayaan sebagai suatu yang esensial dan tetap dipertahankan (Michiko, 2002:2).
Kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Jepang dalam mengadakan perubahan selalu berlandaskan nilai luhur yang diangkat dari budaya tradisional mereka. Hal itu begitu kuat dan mendasar sekali dalam memotivasi masyarakat Jepang yang selalu menjunjung nilai luhur budaya tradisional yang dijadikan identitas dan jati diri mereka (Okada, 2002: 17).
Komik (Manga)
Industri manga
Amerika tercatat sebagai negara pertama yang melahirkan jenis hiburan populer yang disebut komik ini. Setelah kelahirannya, komik berkembang pesat dan sempat mengalami masa keemasannya diantara tahun 1938 dan 1945 ketika komik-komik Amerika melahirkan tokoh-tokoh super heronya seperti Superman. Kemudian komik menyebar sebagai komoditas bacaan popular ke berbagai penjuru dunia termasuk Jepang tidak luput mendapat pengaruhnya (Les Daniel, 1971: x).
Sejak awal 1955 tercatat sebagai awal mula industri komik di Jepang. Hal itu diawali oleh para pembuat gambar pertunjukan keliling yang mulai kehilangan penonton karena mulai adanya industri film dan televisi. Para pembuat gambar tersebut selanjutnya berkonsentrasi menekuni pembuatan komik-komik yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan yang dapat dipinjamkan. Mulai saat itu tradisi membaca komik menjadi bagian dari budaya Jepang sampai saat ini, dan fenomena tersebut sempat menimbulkan semacam anekdot yang menyatakan bahwa kebutuhan kertas di Jepang untuk pembuatan komik jauh melampaui penggunaan kertas toilet (Schodt, 1983: 12).
Komik dalam bahasa Jepang disebut manga yang berarti kartun, karikartur, komik strip, buku komik, dan animasi. Istilah ini kemudian menyempit dan dikhususkan hanya untuk komik Jepang bahkan menjadi salah satu jenis komik yang diakui dunia. Manga menjadi bacaan paling akrab bagi masyarakat Jepang. Industri manga di Jepang berkembang menjadi pesatnya jauh melampaui Amerika. Manga bagi orang Jepang bukan hanya sekedar bacaan hiburan semata akan tetapi telah berubah menjadi kultus, khususnya bagi remaja (Schodt, 1983: 18).
Kendati manga telah dikenal pada akhir abad ke-18, industri manga mulai berkembang pesat sejak 1963. Ketika itu masyarakat Jepang telah mampu berbelanja hiburan, termasuk membeli pesawat televisi. Jumlah televisi di Jepang pada tahun 1963 mencapai 15 juta unit, bertambah lima juta dari tahun sebelumnya. Kedatangan abad televisi mendorong para penerbit dan produser film merestrukturisasi industri manga. Setelah program televisi mingguan menayangkan televisi kejadian sehari-hari, majalah manga mingguan menggeser majalah manga bulanan. Majalah dicetak massal dan dijual di berbagai tempat dengan harga murah. Setiap edisi memuat sekitar 12 atau lebih seri komik (Shiraishi, 2000).
Jepang telah menjadi negara industri besar dunia yang mampu bersaing dengan Amerika, setelah berhasil bangkit dari keruntuhan di masa Perang Dunia II puluhan tahun silam. Berbagai macam produknya mengalir ke berbagai belahan dunia tidak terkecuali Amerika. Jepang pun tampaknya seolah ingin balas dendam atas kekalahannya pada Perang Dunia II dengan membombardir segala produk eksportnya termasuk komik di dalamnya.
Pada awalnya komik Jepang sempat mengalami perlakuan diskriminatif dan berkali-kali dilarang masuk pasaran Amerika dengan alasan sebagai sebuah ancaman. Setelah komik Jepang ini benar-benar diterima oleh publik berbagai negara termasuk Amerika, kemudian muncul lagi tanggapan bernada curiga, di antaranya yang dikatakan oleh Joseph Nye bahwa Jepang sebagai penguasa ekonomi, tampaknya tengah menyusun kekuasaan yang ‘kooptatif’, yaitu menjadikan orang lain menghendaki apa yang dikehendaki Jepang (Shiraishi, 2000).
Amerika selalu berusaha menjadi trendsetter budaya popular dunia, maka Jepang pun pada gilirannya sudah menunjukkan persaingan untuk meruntuhkannya dan menjadi trendsetter baru dalam dunia komik dunia. Persaingan untuk menjadi trendsetter dunia itu dibuktikan Jepang melalui penyebaran judul-judul khas komik Jepang di Amerika. Hingga akhirnya Amerika yang pernah menganggap rendah komik Jepang akhirnya mengakui kelebihan-kelebihan manga. God of Manga Osamu Tezuka merupakan seniman manga pertama yang go internasional dari Jepang, dan setelah itu disusul oleh judul lain yang beredar hingga ke Perancis (Basuki, 2000). Pada 1963, Tezuka membuat animasi televisi untuk pertama kali, dan menjual karakter animasi tersebut (merchandising) untuk menutup biaya produksi. Dua karyanya, Mighty Atom (Astro Boy) dan Jungle Emperor sukses besar di luar negeri (Shiraishi, 2000).
Komik Doraemon
Fujio F Fujiko adalah sebuah nama kelompok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan komik di Jepang. Lewat tangan-tangan kreatif kelompok ini lahir komik-komik papan atas salah satunya adalah Doraemon yang lahir pada tahun 1970. Sejak kelahirannya Doraemon telah menjadi komik kegemaran anak-anak Jepang (Shiraishi, 2000)..
Komik Doraemon tergolong komik humor dan termasuk jenis robot. Kemunculan komik ini menyusul robot atom The Mighty Atom (Astro Boy) karya Tezuka yang dibuat sekitar tahun 1968. Kedua kisah komik di atas memang sama-sama berkisah tentang robot jenius namun keduanya mempunyai karakter dan fungsi yang berbeda. Astro Boy diciptakan untuk membangun Jepang pasca perang yang telah luluh lantah diakibatkan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Doraemon dibuat untuk melindungi Nobita yang sengaja dikirim dari abad ke-22 oleh cicitnya Nobita bernama Sewashi (Shiraishi, 2000)..
Pada tahun 1974 Doraemon diterbitkan dalam bentuk serial komik oleh Shougakukan. Tahun 1979 muncul Doraemon dalam bentuk kartun disepuluh saluran televisi. Setelah dua tahun disiarkan di televisi Jepang, Doraemon kemudian disiarkan di negara-negara lain seperti Hongkong (1981), Indonesia (1989), Cina (1991), Malaysia, Brazil, dan Singapura (1982), dan menyusul beberapa negara lainnya (Lam, 1997: 10).
Serial Doraemon memiliki karakter yang berbeda dengan karya-karya Walt Disney dan Waner Bros. Cerita yang disuguhkan Doraemon dapat membekas pada benak anak-anak dan memuaskan imajinasi mereka tentang benda-benda yang dikeluarkan dari kantong ajaib Doraemon yang dapat mengatasi semua masalah (CP, 2000).
Robot ini sengaja dikirim oleh cicit dari cicitnya Nobita bernama Sewashi dengan misi untuk membantu Nobita agar dapat terhindarkan dari segala kesulitan dan dapat terhindar dari perkawinan dengan Jaiko adiknya Giant. Doraemon memiliki saudara perempuan bernama Dorami yang bertugas akan menggantikannya ketika Doraemon harus masuk bengkel untuk pemeriksaan mesinnya yang dilakukan secara rutin ((Shiraishi, 2000).
Kehadiran Doraemon pertama kali ketika dikirimkan kurang sempurna ketika itu mendarat dari dalam laci meja belajar Nobita. Padahal di dalam laci meja belajar Nobita tersebut ada seekor tikus dan memakan daun telinga Doraemon. Akibat kejadian itu kemudian menjadikan Doraemon phobia terhadap tikus. Doraemon merupakan robot yang memiliki perasaan dan selera makan seperti manusia dengan makanan kesukaannya yaitu dorayaki. Sesuatu yang diandalkannya adalah kantong empat dimensi yang berisi alat-alat serba canggih. Salah satu alat yang diandalkan untuk masuk ke dunia lain bernama bocodemo atau pintu. Ciri-ciri alat yang dikeluarkan oleh Doraemon adalah berteknologi tinggi tetapi mudah dioperasikan. (Shiraisi, 2000).
Cerita serial Doraemon, sebenarnya sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai pelajaran di dalamnya. Dalam sebuah buku komik Doraemon rata-rata berisi 15 judul dan biasanya hanya 3-4 judul saja yang bertema humor semata. Tema-tema yang sering muncul kebanyakan berkisar pada masalah pentingnya belajar, budi pekerti, bekerja keras, pengetahuan teknologi, pengetahuan alam, sampai dengan pengetahuan sejarah.
Komik ini mempunyai dua tokoh sentral yaitu Doraemon dan Nobi Nobita, seorang pelajar kelas 4 SD. Doraemon diciptakan khusus untuk mendampingi Nobita. Selain kedua tokoh tersebut, Nobita mempunyai teman bermain yang terdiri dari Shizuka, Goda Takeshi ‘Giant’, Suneo Hasegawa, dan Dekisugi. Setting peristiwa mengambil situasi kehidupan perkotaan Jepang di tahun 1970-an. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mempunyai tempat bermain di lapangan kecil sebuah arel kosong.
Masing-masing tokoh dalam komik ini memiliki ciri ekspresif atau karakter yang berbeda-beda. Pertama, Doraemon digambarkan sabar dan salalu mengalah untuk Nobita. Nobita sering digambarkan sebagai anak yang lemah, malas belajar, tidak suka olah raga, hobinya bermain tali dan lompat tali dengan anak perempuan. Teman-teman Nobita yang dekat adalah Shizuka, seorang anak perempuan yang pintar berasal dari keluarga berada yang mempunyai kegemaran mandi berendam. Teman Nobita yang lain adalah Goda Takeshi atau akrab dipanggil Giant merupakan anak yang bertubuh paling besar. Ia merasa paling berkuasa di antara teman lainnya tetapi sangat takut kepada ibunya. Tokoh lain yang kerap muncul adalah Suneo Hasegawa, seorang anak laki-laki yang paling kaya di antara teman Nobita. Suneo paling suka memamerkan mainan-mainan mahal yang baru dibeli oleh ayahnya dari luar negeri.
Makna Komik Doraemon
Seperti yang telah diuraikan di depan bahwa karya budaya manusia penuh dengan simbolisme, sesuai dengan tata pemikiran atau paham yang mengarahkan pola-pola kehidupan sosialnya. Kebudayaan itu sendiri adalah kesatuan dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia. Begitu pula dengan keberadaan komik Doraemon yang hadir di tahun 1970-an di dalamnya sarat dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan atau pembaca. Pesan tersebut diungkapkan secara simbolik melalui sebuah komik yang diberi nama Doraemon.
Objek utama dalam serial komik Doraemon adalah alat-alat canggih berteknologi tinggi yang digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. Alat-alat tersebut dikeluarkan dari dalam kantong empat dimensi milik Doraemon yang dapat dikeluarkan kapan saja dan di mana saja. Walaupun alat-alat Doraemon berteknologi tinggi akan tetapi alat-alat tersebut mudah dioperasikan.
Berdasarkan uraian di atas tampak adanya relasi antara komik Doraemon dengan masyarakat Jepang di era kemunculan pertama kali komik Doraemon terutama berkaitan dengan aspek teknologi dan industri. Komik Doraemon diciptakan dalam situasi perindustrian yang sedang menggalakkan komputerisasi dalam proses produksi. Sistem mekanisasi dan elektronika (mekatronika) yang berbentuk robot-robot mulai berperan dalam industri otomotif Jepang saat itu (Ishinomori, 1989: 9).
Kemunculan inovasi teknologi dalam bidang industri tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat Jepang sendiri yang haus akan ilmu pengetahuan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pada era 1955-1970-an, peningkatan ilmu pengetahuan menjadi point yang pokok. Para Pemimpin Jepang berpendapat bahwa hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dibangun industri dan ekonomi Jepang yang maju. Faktor pendidikan berpengaruh besar sekali kepada pertumbuhan Jepang menjadi negara yang modern dan kuat dalam bidang ekonomi , karena pendidikan yang meluas itu menciptakan tenaga manusia yang cakap dalam proses produksi dalam jumlah besar.
Komik Doraemon sangat sesuai dengan semangat zaman ketika pertama kali komik itu dibuat yaitu kemajuan di bidang teknologi dan industri sebagai hasil dari masyarakat Jepang yang menjunjung tinggi dan haus akan ilmu pengetahuan. Sehingga komik Doraemon dapat dikatakan sebagai simbol masyarakat Jepang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan berhasil bangkit dari kehancuran menjadi masyarakat yang maju.
Selain itu Doraemon juga sebagai simbol produk-produk industri Jepang yang sangat mengutamakan kesempurnaan. Hal tersebut dapat dilihat dari semua alat-alat Doraemon yang dapat mengatasi semua permasalahan. Dapat dikatakan bahwa produk-produk Jepang adalah produk yang sedikit sekali terdapat cacat dan kerusakan. Hal tersebut karena perusahaan Jepang menganggap masalah itu sebagai sesuatu yang memalukan, yang menyangkut kehormatan perusahaan. Jika barang dagangan yang cacat diketemukan dan ditulis dengan huruf besar di surat kabar, kepala bagian yang bertanggung jawab atas hal itu merasa lebih baik mati. Bukan hanya manajemen tertinggi, akan tetapi juga kepala bagian dan kepala seksi merasa sangat bertanggung jawab atas kualitas produk yang mereka hasilkan. Mandor dan pekerja juga mempunyai rasa tanggung jawab. Ini bersumber dari kenyataan bahwa Jepang mempunyai ‘kebudayaan yang didasarkan pada rasa malu (culture of shame) dalam masyarakat Jepang yang sangat erat terjalin, setiap orang merupakan bagian dari suatu kelompok (Moritani, 1986: 49-50).
Bahwasanya orang Jepang sangat tidak menyukai barang cacat juga berasal dari sifat tidak mudah puas yang merupakan sebagian wataknya. Cacat kecil saja sudah menimbulkan rasa tidak enak, sehingga mereka menghendaki kesempurnaan. Dan ini tidak hanya pada pabrikan saja. Watak nasional yang demikian inilah yang mendukung terciptanya kualitas tinggi barang-barang Jepang. Namun demikian, salah satu faktor terpenting dan konkrit yang menyebabkan kualitas tinggi adalah penyebaran teknik pengawasan mutu atau kualitas. Pengawasan mutu atau Quality Control (QC), tersebar di seluruh industri manufaktur sejak sekitar tahun 1950. ‘Lingkaran QC’ Jepang yang terdiri atas pekerja yang terlibat dalam produksi, merupakan unsure utama penyebaran teknik QC dan telah menarik banyak perhatian dunia (Moritani, 1986: 50-51).
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa komik Doraemon ternyata tidak hanya berfungsi sebagai bacaan hiburan semata. Akan tetapi, dibalik keberadaannya ternyata terdapat makna yang tersembunyi. Bagi orang Jepang, komik Doraemon adalah sebagai simbol dari masyarakat Jepang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan berhasil bangkit dari kehancuran menjadi masyarakat yang maju. Selain itu komik tersebut juga sebagai simbol produk-produk industri Jepang yang sangat mengutamakan kesempurnaan. Jadi, diciptakannya simbol dalam bentuk komik Doraemon tersebut adalah dengan tujuan pencapaian tujuan sosial tertentu. Masyarakat Jepang menginginkan agar mereka (orang Jepang) tidak lagi dianggap sebagai warga Jepang yang terpuruk akibat kekalahan dalam Perang Dunia II. Masyarakat Jepang ingin mengatakan bahwa negara dan masyarakatnya sudah menjadi bangsa yang maju yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Iklan

Posted on 30 Agustus 2010, in budaya, serba-serbi, simbol and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: